kemana

kemana

Jumat, 07 Desember 2012

Nubuat kiamat Nostradamus, bumi meledak bulan ini?

MERDEKA.COM, Sebentar lagi 21 Desember 2012. Konon saat itulah dunia ini diramal kiamat. Ketika sumbu bumi semakin miring, perlahan-lahan bencana besar melanda. Gempa memecah belah bumi, mulai dari bagian bumi barat, dari benua Amerika terus meluas hingga belahan bumi Timur, Jepang dan kawasan Asia. Nubuat kiamat itu diramalkan Nostradamus.

Peramal Nostradamus lahir di Boulougne, Perancis pada 1503, dan meninggal 1566 pada umur 62 tahun. Dia meramal sebuah planet X atau disebut Nibiru. Kata dia, Nibiru bakal menghantam laut Mediterania 19 hari lagi. Kini posisi planet X itu sejajar dengan venus.

Richard Deem, ilmuan biologi dari Universitas Southern California, sepertinya memercayai ramalan itu. Dia sempat menulis catatan pada leman situs www.godandscience.org.

Menurutnya, nubuat tentang kiamat bisa jadi benar. Sebab, selain ramalan tentang nibiru, secara ilmu pengetahuan tahun ini siklus tata surya di dalam galaksi mengalami perubahan saban 33 tahun sekali, di mana posisi Matahari berada tepat di tengah galaksi.

Peristiwa itu, dia melanjutkan, bisa jadi tepat terjadi pada 21 Desember 2012. Pada saat bersamaan, kutub akan mengalami pergeseran besar karena penyelarasan pusat galaksi dengan matahari. Hal itu akan menyebabkan guncangan gempa bumi besar, gunung berapi, dan tsunami.

Nubuat kiamat juga diramalkan seorang dukun terakhir suku Inca di Peru, Amerika Latin. Suatu hari, pada 1949 silam, Dr Alberto Villoldo, ahli psikologi dan antropolog obat asal Peru, bertemu dukun bernama Q’ero di pegunungan.
Kepada Villodo, dukun itu mengungkap ramalan kiamat. Konon, kata dia, ketika cara fikir manusia mati, itulah tanda berakhirnya hubungan manusia dengan alam dan bumi.

Ketika alam kehilangan keseimbangan karena ulah manusia, maka ketika itu bumi akan bergejolak selama empat tahun, ditandai dengan runtuhnya peradaban Eropa. Ramalan Nostradamus dan dukun Inca juga didukung ramalan lain, misalnya ramalan kiamat didasari berakhirnya kalender suku Maya di Amerika tengah.

Kalender suku Maya menandai akhir dari lingkaran tahun 5.126, bila dihitung tepat pada 21 Desember 2012. Pada saat itulah dewa perang dan penciptaan, Bolon Yokte akan kembali dan menandai berakhirnya Baktun 13, yaitu periodisasi waktu 394 tahun yang diciptakan bangsa Maya. Kemunculan Bolon Yokte akan menandai kehancuran dunia. Namun belakangan ramalan suku Maya ini dibantah.

Bila kiamat benar-benar terjadi bulan ini, apakah anda benar-benar sudah siap? Sebab, kata Ricahrd Deem, bila kiamat terjadi, maka tidak banyak yang bisa dilakukan oleh manusia untuk mempersiapkan akhir dunia.

"Tentu saja, jika anda benar-benar percaya dunia akan berakhir, maka anda tidak akan membutuhkan uang lagi," kata Richard.
Sumber: Merdeka.com

Minggu, 27 Mei 2012

15 APRIL MINGGU MALAM 2012




Selama ini begitu banyak pertanyaan yg membuat diriku selalu gelisah, rasa takut, rasa penasaran karena perubahan dalam dirinya…perubahan itu semakin terasa disaat aku bertemu untuk menanyakan ada apa selama ini..tapi disaat itu masih juga ada terasa kebohongan dalam penjelasan yg terjadi slama ini.

Semua pertanyaa itu terjawab sudah di minggu malam di 15 april 2012 disaat semua sudah tak bisa dihindari lagi..ternyata selama ini ada orang lain dalam kehidupan nya.

Aku sadari selama ini aku memang banyak kekurangan untuk bisa membahagiakan dirinya. tapi apakah diatas kekurangan itu aku harus menerima kenyataan yang kedua kali kenyataan pahit untuk menebus kesalahanku.

Apakah aku tidak pantas untuk bisa merasakan kebahagian di atas ketulusan cintaku.?

Apakah aku tidak pantas mendapat kan kesetian dari cinta ini…?

Mengapa cinta ini begitu menyakit kan…?

Ya Allah… mengapa begitu berat cobaan buat aku terima dalam prasaan tulus untuk nya…
Ya Allah.. jadikan lah dia pendamping yang setia kalau memang dia jodoh ku..kalau memang dia bukan untuk ku, ku mohon hilangkan prasaan ini untuknya agar aku bisa melangkah menatap masa depan yang lebih baik.

Aku telah gagal dalam hidupku…....
Aku telah gagal menuntun dia menjadi pendamping yg setia........
Aku telah gagal membuat dia menjaga diri nya hanya untuk ku…......
Saat malam datang kau buat diriku gelisah untuk tentukan kemana langkah ku..........
Saat pagi menjelang untuk segar kan hati tak jua bisa hapus kan semua beban ku ini,aku tak tau mengapa ini semua bisa terjadi..........
Cinta itu adalah pengorbanan….....
Cinta itu adalah tangis dan tawa........
Dalam nya cinta ini membuat ku diduka yg terdalam,hampa hati terasa kau tinggal kan ku mesti ku tak rela.......
Salah kah jika aku terlalu mencintai mu sampai aku tak berdaya kau tinggal kan.........
Salah kah jika saat ini ku masih mengharapmu kembali.......…
Mungkin suatu saat nnt kau temukan bahagia tak bersama ku.........
Jika suatu saat nanti kau tak kembali,kenang lah aku sepanjang hidup......
Seandai nya ku bisa memutar waktu kembali akan ku pastikan diriumu hanya untuk ku dn membuatmu bahagia di sampingku..tapi sekarang kau katakan semua sudah terlambat…......
Sebenar nya ku selalu mencintai mu,ku sellu menjaga persaan mu selama ini sebesar perasaan ku untukmu........
Kini ku ingin terbang jauh membawa prasaanku yang mungkin hanya aku yg tau sampai kapan aku mampu bertahan diatas prerasaanku,.....…
Sungguh berat aku meninggalkan mu,mungkin ini yang terbaik,karna ku tau itu yg dia inginkan…......
Dimana dlu kata setia mu.........…
Dimana dlu hanya aku yg kamu mau….........
Sekarang semua terjawab sudah yang aku takuti akirnya terjadi juga…kecurigaan ku ini terakir terjaswab sudah di 15 april minggu malam…6tahun tak berrti,kesetian ku selama ini dibalas dengan rasa sakit hati.....…
Selamat jalan syank......…semoga kamu temukan pendamping hidup yg bisa memberikan segala nya untuk mu….....
Jika suatu saat kau kembali,perasaanku tak akan pernah berubah…akun selalu menunggumu untuk kembali….....
Aku akan selalu mencintai dan menyayangimu sampai akir hayatku..karna aku akan sellu setia dengan satu cinta….......
Cinta memang ada aal nya,namun jg pasti ad akirnya…......
Walau pun aku tidak bisa memiliki mu lg,izin kan aku hanya miliki cinta mu….... karna hanya itu yg aku punya….....
                                   BERAKIR DI 15APRIL MINGGU MALAM DI TAHUN 2012


Bahaya Politik Transaksional


Pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahap pertama telah usai. Perhitungan suara mulai dilakukan untuk mendapatkan sang juara sebagai pemimpin lima tahun ke depan. Metode perhitungan suara melaluiquick count nampaknya berbanding lurus dengan hasil akhir di lapangan. Berdasarkan hasil perhitungan sementara, beberapa calon kepala daerah dapat langsung melenggang di kursi kekuasaan dan ada juga yang harus mengikuti putaran kedua, layaknya babak final pertandingan sepak bola.

Banyak fenomena menarik untuk dicermati di tengah pergulatan memperebutkan tampuk kepemimpinan. saling laga para tim suksesi yang berujung kekisruhan, intimidasi, dan pembakaran. Apa yang terjadi di Gayo Lues baru-baru ini adalah sederetan efek politik yang tidak sehat telah terjadi sehingga menimbulkan kekisruhan di tengah masyarakat. Terlihat jelas ada praktik politik “kepentingan”  yang terjadi.


Pemberitaan media cetak dan elektronik terkait kekisruhan Pilkada menjadi bukti kongkret bahwa sistem tersebut telah membidani munculnya konflik melalui sekat-sekat golongan di tengah masyarakat. Pergolakan ini seolah sudah biasa dan dianggap lumrah karena intensitas kejadiannya yang berulang, padahal gesekan tersebut akan berlanjut pada wilayah dendam yang semestinya tidak perlu terjadi.


Pihak yang memenangkan pergulatan tentu akan tersenyum sumringah atas apa yang telah diperjuangkan, sebaliknya pihak yang kalah akan tersingkir dari pusaran kekuasaan. Dengan alasan soliditas dalam memimpin, kepala daerah terpilih acap kali melakukan bongkar pasang terhadap personilnya yang secara normatif memang diatur dalam peraturan. Jika pergantian personil atas dasar kompetensi tentu sudah semestinya, namun yang terjadi jauh panggang dari api. Kebijakan pemimpin terpilih akan berada pada wilayah bagi-bagi kekuasaan.


Politik transaksional bukan saja pada wilayah ‘money politik’ yang disinyalir diberikan untuk membeli suara rakyat, tapi lebih dari itu yakni transaksi bagi-bagi kekuasaan dan kue pembangunan. Pembagian ini akan menimbulkan pelayanan publik yang kurang memuaskan dan menjauh dari skala prioritas konsepsi ilmiah akibat pembagian kursi yang tak wajar. Penempatan personil bukan lagi berdasarkan bidang keahlian, namun lebih pada faktor kedekatan dalam perspektif pemberi dukungan.
Keberadaan tim suksesi sebagai tulang punggung pemenangan membutuhkancost yang besar yang besar, asumsi yang dibangun adalah bagaimana agar kuantitas tim suksesi harus memadai guna mempengaruhi massa agar pergulatan dapat diraih. Ekses selanjutnya adalah permintaan imbalan oleh pendukung atas jerih payah yang telah diberikan. Banyaknya jumlah tim suksesi dengan segudang tuntutan tentu tidak dapat dipenuhi semuanya, sehingga memaksa kepala daerah terpilih melakukan perangkingan berdasarkan besarnya andil dan dukungan, terutama dukungan dana. Pemilik dana besar yang menyokong terujudnya kemenangan adalah para pengusaha/ pemodal, suara mereka sangat didengar bahkan dapat memutar ‘leher’ penguasa ke kiri dan kanan  guna menentukan arah kebijakan pemerintahan.
Trend pergerakan politik yang mahal melahirkan kebijakan yang cenderung bersujud kepada ‘kepentingan’ dan uang. Mungkin saja kita tidak setuju dengan pernyataan tersebut, namun fakta berkata demikian. Mahalnya biaya politik yang dikeluarkan oleh para kandidat menyebabkan mereka mesti mengkaji ulang kebijakannya pada saat memimpin guna mengembalikan modal yang telah dihabiskan.


Pada tahap ini arah kebijakan kepala daerah mulai berubah, inilah sistem yang menggiring mereka dalam bertindak. Tidak mengherankan jika akhirnya mereka melahirkan kebijakan-kebijakan kontra dengan keinginan rakyatnya. Kualitas pelayanan publik yang tidak kunjung meningkat, pengadaan barang-barang publik yang terkesan asal-asalan, ini semua adalah akibat praktik ekonomi biaya tinggi. Pemberian fee telah menjadi rahasia umum dan seolah tidak ada dosa dan nista bagi pelakunya. Pelanggaran yang kerap dilakukan oleh kepala daerah menjadi sah-sah saja dan akan dicap sebagai orang ‘bodoh’ jika tidak ikut melakoninya. Itulah kebodohan hamba yang menganggap dosa bukan lagi taruhan yang akan ditakar pada hari pembalasan.


Seringnya kepala daerah yang terlibat korupsi dengan jumlah yang fantastis tentu bukan hanya perilaku oknum saja, namun lebih dari itu yakni permainan sistem yang mahal mengharuskan mereka menabrak rambu-rambu yang ada, bahkan rela mengadu nasib ke penjara. Sepanjang penerapan otonomi daerah, Presiden sudah menerbitkan izin pemeriksaan terhadap 173 kepala daerah terkait masalah hukum. Selain 173 kepala daerah, masih ada lebih dari 2000 anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota yang bermasalah dengan hukum (kompas, 27/3).
Dilain pihak, pendukung yang tidak didengar suaranya bahkan cenderung diabaikan akan berusaha melakukan penentangan akibat kekecewaan karena tidak terpenuhinya harapan. Terjadilah koloni baru dan bergabung dengan pihak yang kalah bersaing, sehingga secara alami membuat pusaran yang semakin lama semakin erat, besar dan kuat siap menggantikan posisi pihak yang sedang berkuasa, untuk kemudian melanjutkan lagi pola lama yang hanya mengulang sejarah saja. Begitulah proses tersebut terjadi terus menerus dan akhirnya jadilah pemimpin-pemimpin golongan bukan pemimpin kolektif untuk semua rakyat.


Sejarah terus saja berulang, pergantian pemimpin terus bergulir. Tapi nasib rakyat tetap menjadi tanda tanya besar. Fakta gamblang adalah bagi-bagi kursi menteri koalisi istana, hal tersebut juga dipraktikan di level bawah (Pemerintah Tk I dan Tk II), tidak mengherankan jika kemudian berujung pada bagi-bagi proyek sebagai pundi-pundi uang untuk menghidupkan parpol dan golongan pendukung sekaligus membalikkan modal perhelatan. Birokrasi yang gemuk melalui penambahan personil merupakan motif lainnya, di level Negara penambahan wakil menteri dan satgas-satgas yang membuat pergerakan pemerintahan melambat dan tidak efesien. Hal ini akan berimplikasi terhadap pembengkakan Anggaran dan pemborosan. Kepala daerah juga demikian, penambahan tenaga kontrak, honorer terus saja dilakukan dengan alasan kebutuhan dan pengentasan pengangguran, meskipun sebenarnya sebagai bentuk balas jasa dari sang tuan.


Rakyat tentu tidak ingin terus larut dalam mimpi untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar mumpuni, terpercaya dan jujur serta mengajak rakyatnya pada satu tujuan hidup yang sesungguhnya. Diantara fakta yang terus saja dipertontonkan sang pemimpin terpilih, kiranya ada satu keinginan yang menggelayut di hati sanubari, akankah pemimpin yang terpilih dapat membawa rakyatnya pada kebahagian hakiki (Dunia dan Akhirat)? Pertanyaan tersebut memang  mudah untuk diungkapkan, namun tidak demikian aplikasinya.Tetapi tetap saja sebuah kewajiban yang mesti segera ditunaikan.


Sebenarnya pemimpin tidak cukup hanya bermodal niat baik, ada persoalan peraturan melingkupinya yang membuat mereka terkungkung tak berdaya. Lihat saja semua para kandidat dari dulu hingga kini tetap saja mengusung ide mensejahterakan rakyat, membuat rakyat hidup dalam keberkahan. Namun sangat kontras dengan persoalan yang menimpa, sehingga tidak nyambung dengan jargon yang digembar-gemborkan.


Isu penerapan syariat Islam juga sering menjadi dagangan yang menggiurkan, tidak tanggung-tanggung bahkan mereka berani menjamin akan menerapkan aturan Islam secara kaffah di bumi serambi mekkah. Di sisi lain kebijakan-kebijakan para pemimpin yang lahir dari aturan telah baku yang menjadi acuan dalam ranah bernegara. Negara tidak akan membiarkan kepala daerah untuk melakukan sesuatu aturan yang berbenturan dengan undang-undang yang lebih tinggi di negeri ini. Tentu hal ini menjadi paradoks dengan apa yang diungkapkan oleh para pemimpin untuk menerapkan aturan Islam dalam kepemimpinan mereka, kalaupun terterapkan maka itu semua adalah hasil kompromi dan sejalan dengan peraturan Negara.


Hasil kompromi peraturan akan melahirkan peraturan baru yang lebih trenddisebut moderat yang sejatinya adalah pemisahan agama dengan konsep pemerintahan (sekulerisme). Paraturan tersebut membuat para kepala daerah menjadikan diri mereka tidak utuh dalam bertindak, disatu sisi harus melihat berdasarkan konsep Islam, tapi disisi lain juga harus taat pada aturan yang ada yang bahkan sering berbenturan. Muncullah dualisme konsepsi dalam melihat masalah yang akhirnya menimbulkan keraguan dan lamban dalam mengambil keputusan. Lambat-laun akan membelokkan persepsi dan konsepsi masyarakat juga terhadap syariat Islam yang sebenarnya, penggambaran terhadap sistem kaffah menjadi kabur bahkan nyaris tidak terindra lagi oleh generasai saat ini.


Munculnya perdebatan yang menghabiskan banyak energi tidak terlepas dari paradigma berpikir dan bersikap terhadap suatu problem yang terus saja berbeda. Hal-hal yang sudah jelas dalam hukum syara’ tetap saja diperdebatkan, aneh terkadang manusia tanpa segan telah memposisikan diri mereka sebagai tuhan-tuhan baru. Perbedaan memang rahmat, namun tetap saja pada wilayah-wilayah yang dibolehkan, artinya bukan asal beda yang akhirnya meninggalkan garis tegas kebenaran.


Niat baik para pemimpin tanpa dibarengi dengan cara yang benar, maka akan melahirkan kebijakan yang salah. Konsep-konsep yang salah tentu akan menyebabkan terjadinya kerusakan ditengah masyarakat. Bagaimana mungkin pemimpin bisa benar dalam bertindak jika konsep Islam yang sudah baku di kesampingkan. Bukan pemimpin yang terpilih yang menjadi permasalahan utama, tetapi bagaimana pemimpin tersebut bisa menerapkan kebijakan yang sejalan dengan fitrah manusia sebagai bentuk penghambaan dan pengabdian yang kelak akan dipertanggungjawabkan.


Di sisi lain sangat tidak pantas aturan dari sang Pencipta  dikompromikan dengan aturan buatan manusia, kecuali pada wilayah teknis yang memang memberikan ruang untuk dimusyawarahkan. Perlu menyatukan paradigma berpikir, untuk melihat setiap perkara dari satu sisi yang sama. Jika kita mendudukkan kembali apa peran hamba, maka sudah semestinya paradigma yang dibangun adalah berdasarkan Islam, itulah muslim yang sesungguhnya. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi.[]

Penulis: Muhammad Dahrum

Sabtu, 19 Mei 2012

CINTA TAK SELAMANYA INDAH



15 APRIL MINGGU MALAM 2012


Selama ini begitu banyak pertanyaan yg membuat diriku selalu gelisah, rasa takut, rasa penasaran karena perubahan dalam dirinya…perubahan itu semakin terasa disaat aku bertemu untuk menanyakan ada apa selama ini..tapi disaat itu masih juga ada terasa kebohongan dalam penjelasan yg terjadi slama ini.

Semua pertanyaa itu terjawab sudah di minggu malam di 15 april 2012 disaat semua sudah tak bisa dihindari lagi..ternyata selama ini ada orang lain dalam kehidupan nya.

Aku sadari selama ini aku memang banyak kekurangan untuk bisa membahagiakan dirinya. tapi apakah diatas kekurangan itu aku harus menerima kenyataan yang kedua kali kenyataan pahit untuk menebus kesalahanku.


Apakah aku tidak pantas untuk bisa merasakan kebahagian di atas ketulusan cintaku.?

Apakah aku tidak pantas mendapat kan kesetian dari cinta ini…?

Mengapa cinta ini begitu menyakit kan…?

Ya Allah… mengapa begitu berat cobaan buat aku terima dalam prasaan tulus untuk nya…
Ya Allah.. jadikan lah dia pendamping yang setia kalau memang dia jodoh ku..kalau memang dia bukan untuk ku, ku mohon hilangkan prasaan ini untuknya agar aku bisa melangkah menatap masa depan yang lebih baik.

Aku telah gagal dalam hidupku…....
Aku telah gagal menuntun dia menjadi pendamping yg setia........
Aku telah gagal membuat dia menjaga diri nya hanya untuk ku…......
Saat malam datang kau buat diriku gelisah untuk tentukan kemana langkah ku..........
Saat pagi menjelang untuk segar kan hati tak jua bisa hapus kan semua beban ku ini,aku tak tau mengapa ini semua bisa terjadi..........
Cinta itu adalah pengorbanan….....
Cinta itu adalah tangis dan tawa........
Dalam nya cinta ini membuat ku diduka yg terdalam,hampa hati terasa kau tinggal kan ku mesti ku tak rela.......
Salah kah jika aku terlalu mencintai mu sampai aku tak berdaya kau tinggal kan.........
Salah kah jika saat ini ku masih mengharapmu kembali.......…
Mungkin suatu saat nnt kau temukan bahagia tak bersama ku.........
Jika suatu saat nanti kau tak kembali,kenang lah aku sepanjang hidup......
Seandai nya ku bisa memutar waktu kembali akan ku pastikan diriumu hanya untuk ku dn membuatmu bahagia di sampingku..tapi sekarang kau katakan semua sudah terlambat…......
Sebenar nya ku selalu mencintai mu,ku sellu menjaga persaan mu selama ini sebesar perasaan ku untukmu........
Kini ku ingin terbang jauh membawa prasaanku yang mungkin hanya aku yg tau sampai kapan aku mampu bertahan diatas prerasaanku,.....…
Sungguh berat aku meninggalkan mu,mungkin ini yang terbaik,karna ku tau itu yg dia inginkan…......
Dimana dlu kata setia mu.........…
Dimana dlu hanya aku yg kamu mau….........
Sekarang semua terjawab sudah yang aku takuti akirnya terjadi juga…kecurigaan ku ini terakir terjaswab sudah di 15 april minggu malam…6tahun tak berrti,kesetian ku selama ini dibalas dengan rasa sakit hati.....…
Selamat jalan syank......…semoga kamu temukan pendamping hidup yg bisa memberikan segala nya untuk mu….....
Jika suatu saat kau kembali,perasaanku tak akan pernah berubah…akun selalu menunggumu untuk kembali….....
Aku akan selalu mencintai dan menyayangimu sampai akir hayatku..karna aku akan sellu setia dengan satu cinta….......
Cinta memang ada aal nya,namun jg pasti ad akirnya…......
Walau pun aku tidak bisa memiliki mu lg,izin kan aku hanya miliki cinta mu….... karna hanya itu yg aku punya….....

                                
                                   BERAKIR DI 15APRIL MINGGU MALAM DI TAHUN 2012

by candra bsg

Rabu, 02 Mei 2012

Kegalauan Putih Abu-abu


Oleh Sammy Khalifa

Seluruh siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat di Indonesia sudah mulai menempuh perjuangan akhir mereka. Hal ini dilakukan dalam rangka mendapatkan ‘akreditasi’ selesainya proses belajar mereka di tingkat SMA dalam bentuk pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sejak Senin (16/4) lalu.
Kini mereka akan menanti hasil akhir berupa pengumuman kelulusan UN nanti. Berbagai akumulasi perasaan yang bercampur-aduk pun telah dialami. Bukan hanya oleh siswa sebagai peserta didik, namun juga orangtua, guru, stakeholder dan seluruh elemen masyarakat yang masih memiliki kepedulian terhadap nasib masa depan pendidikan kaum remaja generasi penerus cita-cita peradaban bangsa ini.
Ketakutan-ketakutan tersebut bukanlah hal yang tak beralasan. Sejak pertama sekali diterapkan pada periode 1950-an sampai sekarang dan sudah beberapa kali berganti nama, mulai dari Ujian Penghabisan, Ujian Negara, Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas), Ujian Akhir Nasional (UAN) hingga sekarang menjadi UN, beragam pro-kontra masih saja menyertainya. Fenomena ini kian rumit pula ketika dihadapkan pada kenyataan kompleksitas yang dimiliki remaja (adolescene) usia sekolah ini.
 
Putih Abu-abu

Masa SMA dikenal juga sebagai masa ‘putih abu-abu’. Istilah ini mulai dikenal setelah dipopulerkan oleh sebuah sinetron di salah satu stasiun televisi swasta dengan judul yang sama. Putih abu-abu yang dimaksud di sini merujuk pada warna seragam SMA, di mana bajunya berwarna putih dan celana/rok berwarna abu-abu.
Jika ditelaah secara lebih mendalam, pelabelan istilah yang bersumber dari warna seragam ini bukanlah hal yang kebetulan semata. Bila diperhatikan, warna putih pada baju seragam SMA ini berakar dari filosofi tabularasa-nya John Locke, yang menganggap bahwa seorang anak manusia itu masih ‘kosong’, dan pengetahuan diperoleh dari interaksinya dengan dunia luar dalam bentuk pengalaman dan persepsi. Dan hal ini sejalan dengan visi-misi pendidikan di sekolah usia menengah atas itu.
Sementara warna abu-abu pada celana/rok lebih identik dengan hal yang sifatnya samar-samar. Jika dikaitkan dengan status identitas remaja SMA, di sinilah letak kesamaan antara ketidakjelasan (kabur, samar-samar) dengan kelabilan identitas pada remaja usia SMA.
Lebih jauh lagi, Erik Erikson dalam teori tugas psikologi-nya (psychological task) mengkategorikan fase remaja (adolescene) ini, mulai usia 12 – 18/20 tahun dalam masa identitas diri vs kekacauan peran (ego-identity vs role confusion). Fase remaja ini juga disebut sebagai ‘moratorium psikososial’, karena mereka mengisi ‘kekosongan’  fase, antara telah melewati fase anak-anak dan mulai beranjak menuju fase dewasa awal.
Dalam pandangan Erikson, fase remaja ini masih dalam masa pencarian identitas, sehingga terjadi dua kemungkinan; antara mendapatkan identitas idealnya sebagai fondasi awal pembentukan karakter di masa yang akan datang dan terjadinya kekacauan identitas yang mengaburkan peran dan karakternya (krisis identitas).
Realitas ini setidaknya mengindikasikan satu hal; ada yang harus dibenahi terkait dengan pembekalan pendidikan dan ilmu pengetahuan kepada remaja selaku peserta didik, terutama terkait dengan proses evaluasi akhir berbasis nasional, yaitu UN.

Dilema UN

Ada banyak hal yang perlu dikritisi dan dikaji ulang terkait pelaksanaan UN ini. UN yang hadir di akhir masa sekolah dan di tengah realitas pencarian identitas para remaja, seharusnya juga memperhatikan sisi fisik, psikis dan juga latar belakang lingkungan peserta didik itu sendiri. Sebagaimana yang telah penulis uraikan di atas terkait hubungan antara eksistensi UN dan realitas diri remaja SMA, setidaknya ada dua hal yang perlu digarisbawahi dalam konteks ini.
Pertama, pelaksanaan UN saat ini masih mengabaikan kondisi mental para peserta didik. Penyeragaman konteks yang diejawantahkan dalam bentuk ujian secara nasional berpotensi besar mengaburkan identitas peserta didiknya. Peserta didik tidak diberikan ruang untuk mendefinisikan dirinya sendiri dalam proses pendidikan, kemana ia akan melangkah, apa perannya saat ini serta penanaman nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) dalam dirinya sebagai cikal-bakal identitasnya di masa yang akan datang.
Jika hal ini terus berlangsung, besar kemungkinan anak didik tak bisa menempa identitas yang ideal sesuai dengan latar belakang lingkungannya. Sehingga ia akan merasa inferior atau minder dengan identitas lingkungannya, dan dipaksa untuk seragam dan menjadi superior dengan standar nasional.
Kedua, akibat penyeragaman ini, maka secara otomatis UN juga telah menafikan unsur kearifan lokal dan nilai-nilai kedaerahan yang merupakan identitas kolektif suatu daerah. Hegemoni nasional ini telah mengangkangi prinsip-prinsip lokalisme yang seyogyanya juga memberikan andil bagi peradaban bangsa di masa yang akan datang.
Nasionalisme yang hendak dicapai UN seperti ini sama sekali tidak memiliki kepedulian dan apresiasi terhadap perbedaan dan keberagaman di tengah kehidupan masyarakat. Karena walau bagaimana pun, penerapan standar UN yang sama antara sekolah yang berada di Jakarta dengan sekolah-sekolah yang ada di pedalaman masing-masing provinsi di negeri ini tak akan pernah mencapai target yang optimal.
Sebagaimana yang ditulis J. Sumardianta dalam opininya, “Fenomena Kodok Rebus Ujian Nasional”, UN berseberangan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP memberikan kewenangan kepada guru untuk mengkreasikan kurikulum agar selaras dengan konteks sosial, ekonomi dan lingkungan tempat sekolah berada. Spirit KTSP adalah multikultural, demokratis dan desentralisasi. Semangat UN sentralistik dan monokultural. (Tempo, 13/04/2012).

Menyikapi Keberagaman

‘Kegalauan’ kaum putih abu-abu ini haruslah dipahami secara utuh-menyeluruh, terutama sekali terkait kondisi internal dan eksternal para peserta didik. Dari kondisi internal, kelabilan identitas yang mereka alami tidaklah harus disikapi dengan memaksakan penyeragaman dengan standar yang bersifat tunggal.
Alangkah lebih baik jika standar UN dipertimbangkan lagi oleh para stakeholder pendidikan untuk dikembangkan sesuai dengan konteks masing-masing daerah sehingga lebih ‘membumi’, mengingat Indonesia sebagai negara yang aktivitas berkehidupan-berkemasyarakatannya tak terlepas dari kemajemukan yang sangat kompleks. Dengan begitu, peserta didik pun tak akan ‘galau’ dan kebingungan lagi karena telah menemukan formulasi awal pembentukan peran, karakter dan identitasnya sesuai dengan latar belakang masing-masing.
Menolak semangat nasionalisme-penyeragaman yang diusung UN ini bukan berarti tidak sepakat dengan prinsip nasionalisme, karena nasionalisme yang tidak memberikan apresiasi kepada perbedaan dan keberagaman juga pemikiran yang salah kaprah. Intinya, harus ada konsep keseimbangan antara nasionalisme dan lokalisme sehingga keduanya bisa berjalan beriringan dalam keharmonisan.
Semua hal di atas juga harus dibarengi dengan partisipasi aktif semua pihak untuk memberikan dukungan psikologis (psychological support) bagi remaja peserta didik dalam pelaksanaan UN sehingga membuat mereka merasa nyaman dan termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik dalam bidang pendidikan. Akhiru kalam, semoga pelaksanaan UN tahun ini mampu mencapai target yang diharapkan. Amien!

*Penulis adalah mahasiswa Prodi Psikologi Unsyiah, alumni SMA Harapan Persada, Aceh Barat Daya.