“Jika
kamu tidak merasa malu, maka lakukanlah semaumu” (HR. Imam Bukhari, Abu Dawud,
dan Imam Ahmad).
Oleh:
Jarjani Usman
Malu
membawa manusia kepada kebaikan, demikian diingatkan oleh Rasulullah (HR.
Bukhari & Muslim). Peringatan ini menunjukkan
bahwa rasa malu sifatnya fungsional. Ia
berfungsi mengajak (manusia) kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran.
Memang
demikianlah kenyataannya. Tidak
terhitung berapa banyak niat jahat yang muncul di hati manusia menjadi gagal
diwujudkan karena rasa malu masih bersemayam di hati. Sama halnya, betapa banyak perbuatan baik
manusia menjadi tak terabaikan, juga karena disebabkan adanya rasa malu. Hal-hal demikian tentunya tidak akan terjadi,
kalau malu bukan karena Allah.
Bahkan,
malu kepada Allah juga akan menimbulkan rasa malu kepada manusia. Malu kepada Allah akan membuat manusia
menghormati sesamanya. Sebaliknya, kalau
malu kepada manusia saja, tanpa ada rasa malu kepada Allah, banyak menyebabkan
terjerumus dalam jurang kemunafikan.
Yang bisa dinampakkan kebaikan atau tak melakukan larangan hanya ketika
di hadapan manusia. Malu yang timpang
seperti ini berbahaya bagi manusia.
Yang
lebih parah lagi, bukan hanya tidak merasa malu kepada Allah, tetapi juga tak
segan-segan berbuat kejahatan atau kezaliman di hadapan manusia. Bahkan, banyak di antaranya, manusia
dijadikan sebagai korban kezaliman secara terang-terangan. Atau, kezaliman kepada manusia dibuat melalui
aturan-aturan yang dibuat seakan-akan sah, padahal untuk memihak pelaku
kezaliman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar